Potret Cinta di Bali
Karya:
Indriyana Adiesta Rakasiwi
Menyusuri setiap lorong yang dilewatinya, melihat sekeliling
dan segera menuju ke lobby bandara dengan penuh semangat yang sangat membara.
yap Bandara Ngurah Rai, Bali. Disinilah seorang gadis belia itu berpijak saat
ini, di Kota yang sudah ia impi-impikan sejak ia kecil. Bali merupakan kota
terindah baginya, dengan sejuta mimpi dan harapan yang sudah Ia tanamkan sejak
ia berumur 5tahun. Mimpi dan angan-angan itu sekarang bisa benar-benar
diwujudkannya dengan tekad dan harapan tinggi, dengan semangat dan keyakinan
untuk mewujudkan semuanya. Bali, salah satu kota di Indonesia yang sangat
terkenal dengan keindahan panoramanya, kebudayaan khas nya yang sangat menarik,
seperti tarian daerahnya yang sangat terkenal yaitu tari Pendet, salah satu
tempat wisata alamnya yang juga tak kalah menakjubkan, seperti halnya Tanah
Lot, pantai kuta dan yang lainnya. Hal inilah yang membuat kota ini sering dikunjungi oleh
wisatawan lokal maupun wisatawan mancanegara.
Pertama kali menginjakkan kaki di pulau Bali, membuat
rasa keingintahuannya semakin mendalam. Bali, kota yang bisa dibilang sebagai
surganya dunia bagi sebagian orang yang begitu mencintai kota ini. Awan putih
bagai kapas berterbangan riang di sekeliling, bergantian menyambut dengan
lambaiannya yang elok seraya turut bergembira menyaksikan keagungan Tuhan.
Panorama alamnya yang begitu memikat bagai warna-warni bulu merak yang menawan.
Semuanya tulus dalam perbuatan, setulus senyuman hati yang terpancar dari raut
wajah orang-orang yang nampak jelas terlihat disetiap sudut kota.
Pagi yang cerah dengan sinar mentari yang benderang,
membawa langkahnya terus melaju tanpa arah dan tujuan, hingga akhirnya Vina
terhenti di sebuah saung kecil yang nyaman ini, setelah lelah hampir dua jam
berjalan menyusuri beberapa tempat-tempat di sudut kota Bali ini, Vina pun
mulai mengeluarkan camera SLR-nya, dibidiknya satu persatu keindahan alam di
sekitarnya. Sekilas ia mendengar suara musik tradisional terlintas di
telinganya, Vina pun mencari datangnya sumber suara itu, namun belum sempat ia
bangun dari duduknya tiba-tiba saja hujan turun dengan lebatnya membasahi
setiap sudut kota Bali. Vina yang terlanjur terjebak di sana, akhirnya memilih
untuk menunggu hujan reda sembari memotret keadaan sekitarnya. Ketika sedang
asyiknya memotret, tiba-tiba seorang lelaki muda berlari kearahnya dan duduk
disamping Vina, lelaki itu terlihat sangat lelah dengan bajunya yang kuyup karena
hujan yang cukup lebat, akhirnya lelaki itu memilih untuk meneduh disana
sembari melanjutkan pekerjaannya yang belum juga usai.
“Maaf, apa aku boleh ikut
meneduh disini?” Tanya lelaki itu sopan
“Ohh tentu boleh, silahkan
saja” ujar Vina dengan senyum manisnya dan lelaki itupun membalas senyumannya.
Vina melanjutkan kesibukkannya dengan memotret, yaa
memang karena cuaca hujan jadi ia hanya bisa memotret keadaan sekitarnya yang
sedang terguyur hujan. Kemudian lelaki yang baru saja datang itu juga mulai sibuk
merapihkan barang-barang yang dibawanya, lelaki itu mulai mengeluarkan kembali
selembar kertas kanvas dan menggoreskan kanvas itu dengan goresan-goresan tipis
yang membentuk sebuah sketsa gambar, dilukisnya gambar tersebut dengan
lihainya, dan yang ia lukis adalah sosok Vina yang sedang sibuk dengan camera
SLR-nya itu, lelaki itu pun ternyata juga baru menyadari bahwa ternyata sedari
tadi ia melukiskan wanita yang tepat berada di depannya itu dengan sangat
indah. Setelah melihat lukisannya yang memang belum sempurna selesai itu, ia
menoleh kearah Vina yang juga sedang bergaya seperti apa yang terlukiskan
olehnya diselembar kertas kanvas itu. Tanpa banyak bicara dan tanpa fikir
panjang lagi, lelaki tersebut melanjutkan lukuisannya yang indah tersebut pensilnya
mulai menari-nari membentuk sebuah sketsa lukisan yang cukup bagus itu, bahkan
mungkin sangat bagus. Sementara Vina yang masih belum sadar bahwa dirinya
sedang dilukis tetap saja sibuk dengan bidikan demi bidikannya dengan cameranya
itu.
Sesampainya dirumah, Vina membuka laptopnya dan
melihat-lihat hasil foto yang berhasil ia abadikan dan masuk ke dalam arsip
pribadinya hari itu, dilihatnya satu-persatu dan ternyata ada sebuah foto
lelaki berbaju hitam lengkap dengan peralatan melukis di tepi pantai, Vina
melihat kembali foto tersebut dan ia mulai mengenali siapa lelaki tersebut. yaa
lelaki muda yang ia temui di saung tadi saat hujan turun dengan lebatnya dan
lelaki itu berlari menuju saung untuk meneduh, iyaa dia adalah orang yang ada
di dalam foto itu.
Tiba-tiba Vina teringat
dengan suara musik yang sempat ia dengar ketika di saung itu, Vina mulai
bertanya-tanya suara apakah tadi itu dan ia berniat untuk kembali lagi ketempat
tadi dan mencari datangnya sumber suara, yaa Vina memang sangat mencintai
musik, bahkan ia sangat ingin bisa berkecimpung di dunia yang selalu diiringi
dengan musik, entah itu music modern atau tradisional. Baginya musik adalah
hidupnya, belahan jiwanya, dan hembusan nafasnya karna itulah musik terlihat
sangat berharga di mata Vina.
Keesokan harinya ditempat yang sama, Vina kembali duduk
santai di saung tersebut sambil menanti datangnya sumber suara yang kemarin
sempat ia dengar sepintas. Menunggu dan menunggu ia terpaku di sana, hanya diam
duduk dan membuka lebar-lebar telinganya untuk kembali mendengar suara musik
yang sempat ia dengar dengan merdunya itu. Disudut lain lelaki muda itu masih
dengan kesibukkan yang sama ia memainkan jemarinya, pensilnya menari-nari
diatas kertas kanvas membentuk sebuah sketsa gambar seorang wanita yang tengah
duduk menyamping di pinggir pantai, yaa lagi dan lagi wanita itu adalah Vina,
tiba-tiba sosok Vina menghilang dari pandangan sang lelaki itu. Ia mencari
sosok Vina namun tak ditemuinya juga. Setelah berjalan mendekati tempat dimana
tadi Vina duduk, tiba-tiba lelaki itu melihat Vina yang sedang menari di
paviliun diiringi dengan suara musik tradisional Bali, lelaki itu mengamati
tiap lenggak-lenggok tubuh Vina yang tengah menari. Ia terkagum akan gerakan
tari sang wanita itu, ia pun kembali duduk dibawah pohon di dekat paviliun
tersebut dan kembali menggoreskan pensilnya diatas kanvas, lagi-lagi ia
menggambar sosok wanita dan itu adalah Vina.
Keesokan harinya sang lelaki membawa salah seorang temannya
untuk ikut bersamanya ke paviliun tempat Vina biasa menari, ditunggunya sosok
wanita yang biasa ia lihat menari disana, akhirnya ia melihat sosok wanita yang
sejak tadi ditunggunya. Seperti biasanya, Vina kembali menari dengan iringan
musik tradisional Bali, ia menari dengan lihainya. Teman sang lelaki tersebut,
yang ternyata adalah seorang koreographer tari tradisional yang telah mendunia
terkagum akan gerak tarian sang wanita. Setelah wanita itu selesai menari,
mereka segera menghampiri Vina dan mengajaknya berbincang
“Haaii” sapa sang lelaki
“Hmmm haaii, kamuu lelaki
yang kemarin kan?” Tanya Vina
“Hmmm iyaa, aku Wira,
namamu siapa?” Tanya lelaki itu sopan
“Aku Vina, itu temanmu?
Siapa namanya?” Tanya Vina dengan senyumnya
“Hai Vina, aku Widya kalau
boleh tau sejak kapan kamu mulai belajar tari Bali?”
“Sejak kecil aku sudah
mulai mengamati tari Bali, aku mulai menekuni tari Bali ketika umurku menginjak
sepuluh tahun, memangnya ada apa ya kak?”
“Hmm pantas saja gerak
tubuhmu sudah sangat luwes dalam menari, hhmm ohya Vin kamu mau ngga mewakili
Bali dalam ajang tari Nasional yang akan diadakan di Lombok?”
“Serius kak? Tapi kan
masih banyak penari yang lebih bagus dari aku kak”
“Hmm aku rasa kamu pantas
untuk mengikuti ajang itu, gimana kalau besok kamu datang saja ke sanggar tari
Widya yang ada di Nusa dua, Bali?”
“Hmmm oh ternyata kaka
Widya Sari koreographer terkenal asal Bali itu kan?”
“Ahh kamu bisa saja,
yasudah besok aku tunggu kamu di sanggar”
“Baiklah kak” ujar Vina
dan mereka meninggalkan paviliun tersebut.
Keesokan harinya, Vina menuju ke sanggar Widya untuk
menemui kak Widya sang koreographer terkenal itu, sesampainya disana ia melihat
banyak sekali anak kecil yang sedang belajar menari, ia mencoba mencari sosok
Widya dan ternyata Widya tengah mengajarkan gadis-gadis remaja menari Pendet.
Karena melihat Widya sedang sibuk melatih Vina pun duduk di saung yang berada
di samping ruang tari. Seusai melatih, Widya segera menghampiri Vina yang
sedang duduk di saung.
“Maaf ya Vin nunggu lama”
ujar Widya
“Iya kak, nggapapa kok
kayanya ka Widya lagi sibuk ya?” Tanya Vina
“Ah ngga juga kok, ini
memang sudah menjadi rutinitas ku mengajar tari” ujarnya
“Hmm gitu ya kak, ohya kak
aku sudah memikirkan tawaran kaka kemarin, aku rasa aku mau mencoba untuk mengikuti
ajang tari tersebut” ujar Vina
“Wah bagus dong, yasudah
mulai besok kamu bisa berlatih tari di sanggar milikku” jawab Widya
“Baiklah kak, terimakasih
banyak maaf kak aku ngga bisa lama-lama aku pamit dulu ya kak”
Hari demi hari berlalu, seminggu sudah Vina berlatih tari
di sanggar Widya, tekadnya semakin bulat untuk memenangkan tari Bali dalam
ajang tari Nasional tersebut. hari yang ia tunggu pun tiba, hari dimana ia
harus bersaing dengan penari-penari professional lainnya dari seluruh Indonesia.
Vina mendapat giliran ke-20 untuk tampil menarikan tariannya, Vina merasa gugup
ketika berada di belakang panggung, tiba-tiba sosok Wira datang menghampiri
Vina, melihat dahi Vina yang basah dengan keringat, Wira memberikan sapu
tangannya pada Vina dan mencoba menenangkan dan memberi semangat untuk Vina.
Ketika gilirannya tiba, Vina segera menaiki panggung dengan yakin ia mulai
melenggak-lenggok dengan indahnya diiringi alunan musik tradisional Bali.
Seusai Vina menari, ia segera menghampiri Widya yang sudah menunggunya di
belakang panggung.
“Selamat ya Vin, tarianmu
bangus bangett” ujar Widya
“Ah kaka bisa aja,
ngomong-ngomong kok kaka sendirian? Wira kemana?” Tanya Vina
“Emang kamu nggatau?”
“Emang apa kak?” Tanya
Vina penasaran
“Wira hari ini harus
berangkat ke Paris untuk menghadiri undangan
penghargaan seni” jawab Widya
“Tapii, tadi Wira disini”
“Oh itu dia menyempatkan
diri untuk melihat kamu tampil Vin” jawab Widya
Vina pun terdiam sejenak,
merasa dirinya special dihadapan Wira.
Dua minggu berlalu, hasil penilaian juri dalam ajang Tari
Nasional telah diumumkan ternyata Vina berhasil membawa tari Bali menjadi
pemenang dalam ajang Tari Nasional. Vina berniat merayakannya bersama Widya.
Ketika Vina dan Widya tengah berbincang disebuah kafe, tiba-tiba sosok Wira
muncul dihadapannya dengan membawa sebuah lukisan yang dibungkus rapi dengan
sampul coklat. Vina pun terdiam menatap dalam wajah Wira deggggggg…… tiba-tiba
perasaan Vina seperti berbunga-bunga, dengan gugup Vina membuka pembicaraan
yang sejak tadi sunyi hanya saling menatap dalam diam.
“Wii….. wwiiirraaa???”
Ujar Vina
“Iya Vin?”
“Kata ka Widya, kamu ke
Paris?”
“Hmmm iya, semalam baru
saja sampai di Bali” jawab Wira
“Ekhmmm kayanya aku
ganggu,aku pergi ya” kata Widya
“Enggak kok,emang kamu mau
kemana Wid?” Tanya Wira
“Aku ada urusan di
sanggar, ada jam ngajar tari Pendet, udah kamu temenin Vina ya Wir aku titip
dia” jawab Widya dan segera meninggalkan mereka berdua
Sejenak suasana menjadi sunyi , mereka hanya saling
menatap dalam diam, Wira mulai membuka pembicaraan.
“Emm Vin, aku dengar dari
Widya kamu berhasil memenangkan ajang tari nasional itu yaa?” Tanya Wira
“Hmm iya Wir, ohya kemarin
gimana kamu di Paris?” Tanya Vina
“Yaa seru kok, ohya aku
bawa oleh-oleh nih buat kamu Vin” jawab Wira sambil memberikan lukisan yang
terbungkus kertas coklat itu.
Vina membukanya dengan
perlahan, dilihatnya sebuah lukisan yang menggambarkan wanita yang sedang
menari.
“lukisan yang bagus, ini
kamu yang lukis?” Tanya Vina
“Iyaa, kemarin aku ke
Paris untuk menerima peghargaan atas karya lukis ku ini” jawab Wira
“Wah hebat dong, ini siapa
yang kamu lukis?” Tanya Vina
“Hmm masa kamu nggatau sih
ini siapa? Itu kamu Vin” jawab Wira
“Akuu?? Akuuu?” Tanya Vina
heran
“Iyaa itu kamuu, masa ngga
ngenalin sih?”
“Tapi kenapa aku?” Tanya
Vina
“Karna kamu wanita yang
aku sayang” jawab Wira
Hari demi hari berlalu Wira dan Vina semakin dekat, mereka
sering menghabiskan waktu berdua seperti makan bersama,datang ke pameran
bersama dan juga menonton film bersama.Suatu hari mereka tengah bersantai di
pinggir pantai menunggu matahari terbenam.
“Vin aku mau ngomong sama
kamu” ujar Wira
“Apa?” Tanya Vina
“Aku dapet beasiswa ke
Paris untuk mengikuti summer class” kata Wira
Esok adalah hari
keberangkatan Wira ke Paris,Vina mengantar Wira sampai di bandara setelah
mengucapkan salam perpisahan,Wira segera bergegas masuk untuk check in.
Hari-hari
Vina kembali seperti sebelumnya hanya menari di paviliun tanpa kehadiran Wira
di dalamnya,sesekali Vina datang ke sanggar Widya untuk bertemu dengan Widya
dan menanyakan kabar Wira selama Wira berada di Paris.Karna selama itu pula
Vina tidak berhubungan dengan Wira, lima tahun sudah Vina berpisah dengan Wira,
sesekali ia melihat memory cameranya untuk melihat semua foto-foto Wira dengan
dirinya, rindunya semakin menjadi tak ada lagi yang bisa ia lakukan, tak tahu
harus berbuat apa Vina hanya menatap dalam foto-foto itu memory tentang Wira terbuka
ketika Vina mendapatkan sebuah undangan pameran seni yang akan di adakan di
Nusa Dua. Vina datang dengan tampilan elegan ia datang bersama Widya, ketika ia
menginjakan kakinya tiba-tiba ada seorang anak kecil menghampirinya menyerahkan
setangkai bunga mawar merah di susul dengan anak kecil lainnya,ketika di ruang
pameran terpajang jejeran lukisan wanita yang tampak begitu hidup. Satu demi
satu lukisan di tatapnya hingga ia tiba di sebuah ruangan yang penuh dengan
lukisan bergambarkan sepasang kekasih tengah bercengkrama,lukisan-lukisan yang
berjejer itu membentuk sebuah cerita tentang sepasang kekasih itu,hingga pada
lukisan terakhir berada di luar ruang pameran dan lilin-lilin di susun
sedemikian apik hingga membentuk hati yang sangatlah indah, di dalamnya
terbentuk tulisan dari helaian-helaian kelopak mawar yang bertuliskan “I LOVE
YOU” Ketika Vina menoleh Wira datang membawa satu bucket bunga mawar dan
bersimpu di hadapan Vina. Perasaannya seketika tak menentu, haru pun
menjadi-jadi rasa rindunya terbalaskan dengan kebahagiaan yang ia rasakan saat
ini. Seakan waktu berhenti pada saat itu juga, mereka saling menetap dan Wira
pun memeluk Vina dengan penuh rasa rindu dan kasih sayangnya, cinta mereka
bersatu di Bali dalam sebuah indahnya tari Pendet dan menjadi “Potret Cinta”
penuh cerita yang tersusun dalam lukisan-lukisan indah penuh makna.