Minggu, 07 September 2014

Potret Cinta di Bali


Potret Cinta di Bali
Karya: Indriyana Adiesta Rakasiwi

Menyusuri setiap lorong yang dilewatinya, melihat sekeliling dan segera menuju ke lobby bandara dengan penuh semangat yang sangat membara. yap Bandara Ngurah Rai, Bali. Disinilah seorang gadis belia itu berpijak saat ini, di Kota yang sudah ia impi-impikan sejak ia kecil. Bali merupakan kota terindah baginya, dengan sejuta mimpi dan harapan yang sudah Ia tanamkan sejak ia berumur 5tahun. Mimpi dan angan-angan itu sekarang bisa benar-benar diwujudkannya dengan tekad dan harapan tinggi, dengan semangat dan keyakinan untuk mewujudkan semuanya. Bali, salah satu kota di Indonesia yang sangat terkenal dengan keindahan panoramanya, kebudayaan khas nya yang sangat menarik, seperti tarian daerahnya yang sangat terkenal yaitu tari Pendet, salah satu tempat wisata alamnya yang juga tak kalah menakjubkan, seperti halnya Tanah Lot, pantai kuta dan yang lainnya. Hal inilah yang  membuat kota ini sering dikunjungi oleh wisatawan lokal maupun wisatawan mancanegara.
            Pertama kali menginjakkan kaki di pulau Bali, membuat rasa keingintahuannya semakin mendalam. Bali, kota yang bisa dibilang sebagai surganya dunia bagi sebagian orang yang begitu mencintai kota ini. Awan putih bagai kapas berterbangan riang di sekeliling, bergantian menyambut dengan lambaiannya yang elok seraya turut bergembira menyaksikan keagungan Tuhan. Panorama alamnya yang begitu memikat bagai warna-warni bulu merak yang menawan. Semuanya tulus dalam perbuatan, setulus senyuman hati yang terpancar dari raut wajah orang-orang yang nampak jelas terlihat disetiap sudut kota.

            Pagi yang cerah dengan sinar mentari yang benderang, membawa langkahnya terus melaju tanpa arah dan tujuan, hingga akhirnya Vina terhenti di sebuah saung kecil yang nyaman ini, setelah lelah hampir dua jam berjalan menyusuri beberapa tempat-tempat di sudut kota Bali ini, Vina pun mulai mengeluarkan camera SLR-nya, dibidiknya satu persatu keindahan alam di sekitarnya. Sekilas ia mendengar suara musik tradisional terlintas di telinganya, Vina pun mencari datangnya sumber suara itu, namun belum sempat ia bangun dari duduknya tiba-tiba saja hujan turun dengan lebatnya membasahi setiap sudut kota Bali. Vina yang terlanjur terjebak di sana, akhirnya memilih untuk menunggu hujan reda sembari memotret keadaan sekitarnya. Ketika sedang asyiknya memotret, tiba-tiba seorang lelaki muda berlari kearahnya dan duduk disamping Vina, lelaki itu terlihat sangat lelah dengan bajunya yang kuyup karena hujan yang cukup lebat, akhirnya lelaki itu memilih untuk meneduh disana sembari melanjutkan pekerjaannya yang belum juga usai.
“Maaf, apa aku boleh ikut meneduh disini?” Tanya lelaki itu sopan
“Ohh tentu boleh, silahkan saja” ujar Vina dengan senyum manisnya dan lelaki itupun membalas senyumannya.

            Vina melanjutkan kesibukkannya dengan memotret, yaa memang karena cuaca hujan jadi ia hanya bisa memotret keadaan sekitarnya yang sedang terguyur hujan. Kemudian lelaki yang baru saja datang itu juga mulai sibuk merapihkan barang-barang yang dibawanya, lelaki itu mulai mengeluarkan kembali selembar kertas kanvas dan menggoreskan kanvas itu dengan goresan-goresan tipis yang membentuk sebuah sketsa gambar, dilukisnya gambar tersebut dengan lihainya, dan yang ia lukis adalah sosok Vina yang sedang sibuk dengan camera SLR-nya itu, lelaki itu pun ternyata juga baru menyadari bahwa ternyata sedari tadi ia melukiskan wanita yang tepat berada di depannya itu dengan sangat indah. Setelah melihat lukisannya yang memang belum sempurna selesai itu, ia menoleh kearah Vina yang juga sedang bergaya seperti apa yang terlukiskan olehnya diselembar kertas kanvas itu. Tanpa banyak bicara dan tanpa fikir panjang lagi, lelaki tersebut melanjutkan lukuisannya yang indah tersebut pensilnya mulai menari-nari membentuk sebuah sketsa lukisan yang cukup bagus itu, bahkan mungkin sangat bagus. Sementara Vina yang masih belum sadar bahwa dirinya sedang dilukis tetap saja sibuk dengan bidikan demi bidikannya dengan cameranya itu.

            Sesampainya dirumah, Vina membuka laptopnya dan melihat-lihat hasil foto yang berhasil ia abadikan dan masuk ke dalam arsip pribadinya hari itu, dilihatnya satu-persatu dan ternyata ada sebuah foto lelaki berbaju hitam lengkap dengan peralatan melukis di tepi pantai, Vina melihat kembali foto tersebut dan ia mulai mengenali siapa lelaki tersebut. yaa lelaki muda yang ia temui di saung tadi saat hujan turun dengan lebatnya dan lelaki itu berlari menuju saung untuk meneduh, iyaa dia adalah orang yang ada di dalam foto itu.
Tiba-tiba Vina teringat dengan suara musik yang sempat ia dengar ketika di saung itu, Vina mulai bertanya-tanya suara apakah tadi itu dan ia berniat untuk kembali lagi ketempat tadi dan mencari datangnya sumber suara, yaa Vina memang sangat mencintai musik, bahkan ia sangat ingin bisa berkecimpung di dunia yang selalu diiringi dengan musik, entah itu music modern atau tradisional. Baginya musik adalah hidupnya, belahan jiwanya, dan hembusan nafasnya karna itulah musik terlihat sangat berharga di mata Vina.

            Keesokan harinya ditempat yang sama, Vina kembali duduk santai di saung tersebut sambil menanti datangnya sumber suara yang kemarin sempat ia dengar sepintas. Menunggu dan menunggu ia terpaku di sana, hanya diam duduk dan membuka lebar-lebar telinganya untuk kembali mendengar suara musik yang sempat ia dengar dengan merdunya itu. Disudut lain lelaki muda itu masih dengan kesibukkan yang sama ia memainkan jemarinya, pensilnya menari-nari diatas kertas kanvas membentuk sebuah sketsa gambar seorang wanita yang tengah duduk menyamping di pinggir pantai, yaa lagi dan lagi wanita itu adalah Vina, tiba-tiba sosok Vina menghilang dari pandangan sang lelaki itu. Ia mencari sosok Vina namun tak ditemuinya juga. Setelah berjalan mendekati tempat dimana tadi Vina duduk, tiba-tiba lelaki itu melihat Vina yang sedang menari di paviliun diiringi dengan suara musik tradisional Bali, lelaki itu mengamati tiap lenggak-lenggok tubuh Vina yang tengah menari. Ia terkagum akan gerakan tari sang wanita itu, ia pun kembali duduk dibawah pohon di dekat paviliun tersebut dan kembali menggoreskan pensilnya diatas kanvas, lagi-lagi ia menggambar sosok wanita dan itu adalah Vina.

            Keesokan harinya sang lelaki membawa salah seorang temannya untuk ikut bersamanya ke paviliun tempat Vina biasa menari, ditunggunya sosok wanita yang biasa ia lihat menari disana, akhirnya ia melihat sosok wanita yang sejak tadi ditunggunya. Seperti biasanya, Vina kembali menari dengan iringan musik tradisional Bali, ia menari dengan lihainya. Teman sang lelaki tersebut, yang ternyata adalah seorang koreographer tari tradisional yang telah mendunia terkagum akan gerak tarian sang wanita. Setelah wanita itu selesai menari, mereka segera menghampiri Vina dan mengajaknya berbincang
“Haaii” sapa sang lelaki
“Hmmm haaii, kamuu lelaki yang kemarin kan?” Tanya Vina
“Hmmm iyaa, aku Wira, namamu siapa?” Tanya lelaki itu sopan
“Aku Vina, itu temanmu? Siapa namanya?” Tanya Vina dengan senyumnya
“Hai Vina, aku Widya kalau boleh tau sejak kapan kamu mulai belajar tari Bali?”
“Sejak kecil aku sudah mulai mengamati tari Bali, aku mulai menekuni tari Bali ketika umurku menginjak sepuluh tahun, memangnya ada apa ya kak?”
“Hmm pantas saja gerak tubuhmu sudah sangat luwes dalam menari, hhmm ohya Vin kamu mau ngga mewakili Bali dalam ajang tari Nasional yang akan diadakan di Lombok?”
“Serius kak? Tapi kan masih banyak penari yang lebih bagus dari aku kak”
“Hmm aku rasa kamu pantas untuk mengikuti ajang itu, gimana kalau besok kamu datang saja ke sanggar tari Widya yang ada di Nusa dua, Bali?”
“Hmmm oh ternyata kaka Widya Sari koreographer terkenal asal Bali itu kan?”
“Ahh kamu bisa saja, yasudah besok aku tunggu kamu di sanggar”
“Baiklah kak” ujar Vina dan mereka meninggalkan paviliun tersebut.

            Keesokan harinya, Vina menuju ke sanggar Widya untuk menemui kak Widya sang koreographer terkenal itu, sesampainya disana ia melihat banyak sekali anak kecil yang sedang belajar menari, ia mencoba mencari sosok Widya dan ternyata Widya tengah mengajarkan gadis-gadis remaja menari Pendet. Karena melihat Widya sedang sibuk melatih Vina pun duduk di saung yang berada di samping ruang tari. Seusai melatih, Widya segera menghampiri Vina yang sedang duduk di saung.
“Maaf ya Vin nunggu lama” ujar Widya
“Iya kak, nggapapa kok kayanya ka Widya lagi sibuk ya?” Tanya Vina
“Ah ngga juga kok, ini memang sudah menjadi rutinitas ku mengajar tari” ujarnya
“Hmm gitu ya kak, ohya kak aku sudah memikirkan tawaran kaka kemarin, aku rasa aku mau mencoba untuk mengikuti ajang tari tersebut” ujar Vina
“Wah bagus dong, yasudah mulai besok kamu bisa berlatih tari di sanggar milikku” jawab Widya
“Baiklah kak, terimakasih banyak maaf kak aku ngga bisa lama-lama aku pamit dulu ya kak”

            Hari demi hari berlalu, seminggu sudah Vina berlatih tari di sanggar Widya, tekadnya semakin bulat untuk memenangkan tari Bali dalam ajang tari Nasional tersebut. hari yang ia tunggu pun tiba, hari dimana ia harus bersaing dengan penari-penari professional lainnya dari seluruh Indonesia. Vina mendapat giliran ke-20 untuk tampil menarikan tariannya, Vina merasa gugup ketika berada di belakang panggung, tiba-tiba sosok Wira datang menghampiri Vina, melihat dahi Vina yang basah dengan keringat, Wira memberikan sapu tangannya pada Vina dan mencoba menenangkan dan memberi semangat untuk Vina. Ketika gilirannya tiba, Vina segera menaiki panggung dengan yakin ia mulai melenggak-lenggok dengan indahnya diiringi alunan musik tradisional Bali. Seusai Vina menari, ia segera menghampiri Widya yang sudah menunggunya di belakang panggung.
“Selamat ya Vin, tarianmu bangus bangett” ujar Widya
“Ah kaka bisa aja, ngomong-ngomong kok kaka sendirian? Wira kemana?” Tanya Vina
“Emang kamu nggatau?”
“Emang apa kak?” Tanya Vina penasaran
“Wira hari ini harus berangkat ke Paris untuk menghadiri undangan  penghargaan seni” jawab Widya
“Tapii, tadi Wira disini”
“Oh itu dia menyempatkan diri untuk melihat kamu tampil Vin” jawab Widya
Vina pun terdiam sejenak, merasa dirinya special dihadapan Wira.

            Dua minggu berlalu, hasil penilaian juri dalam ajang Tari Nasional telah diumumkan ternyata Vina berhasil membawa tari Bali menjadi pemenang dalam ajang Tari Nasional. Vina berniat merayakannya bersama Widya. Ketika Vina dan Widya tengah berbincang disebuah kafe, tiba-tiba sosok Wira muncul dihadapannya dengan membawa sebuah lukisan yang dibungkus rapi dengan sampul coklat. Vina pun terdiam menatap dalam wajah Wira deggggggg…… tiba-tiba perasaan Vina seperti berbunga-bunga, dengan gugup Vina membuka pembicaraan yang sejak tadi sunyi hanya saling menatap dalam diam.
“Wii….. wwiiirraaa???” Ujar Vina
“Iya Vin?”
“Kata ka Widya, kamu ke Paris?”
“Hmmm iya, semalam baru saja sampai di Bali” jawab Wira
“Ekhmmm kayanya aku ganggu,aku pergi ya” kata Widya
“Enggak kok,emang kamu mau kemana Wid?” Tanya Wira
“Aku ada urusan di sanggar, ada jam ngajar tari Pendet, udah kamu temenin Vina ya Wir aku titip dia” jawab Widya dan segera meninggalkan mereka berdua

            Sejenak suasana menjadi sunyi , mereka hanya saling menatap dalam diam, Wira mulai membuka pembicaraan.
“Emm Vin, aku dengar dari Widya kamu berhasil memenangkan ajang tari nasional itu yaa?” Tanya Wira
“Hmm iya Wir, ohya kemarin gimana kamu di Paris?” Tanya Vina
“Yaa seru kok, ohya aku bawa oleh-oleh nih buat kamu Vin” jawab Wira sambil memberikan lukisan yang terbungkus kertas coklat itu.
Vina membukanya dengan perlahan, dilihatnya sebuah lukisan yang menggambarkan wanita yang sedang menari.
“lukisan yang bagus, ini kamu yang lukis?” Tanya Vina
“Iyaa, kemarin aku ke Paris untuk menerima peghargaan atas karya lukis ku ini” jawab Wira
“Wah hebat dong, ini siapa yang kamu lukis?” Tanya Vina
“Hmm masa kamu nggatau sih ini siapa? Itu kamu Vin” jawab Wira
“Akuu?? Akuuu?” Tanya Vina heran
“Iyaa itu kamuu, masa ngga ngenalin sih?”
“Tapi kenapa aku?” Tanya Vina
“Karna kamu wanita yang aku sayang” jawab Wira

            Hari demi hari berlalu Wira dan Vina semakin dekat, mereka sering menghabiskan waktu berdua seperti makan bersama,datang ke pameran bersama dan juga menonton film bersama.Suatu hari mereka tengah bersantai di pinggir pantai menunggu matahari terbenam.
“Vin aku mau ngomong sama kamu” ujar Wira
“Apa?” Tanya Vina
“Aku dapet beasiswa ke Paris untuk mengikuti summer class” kata Wira
Esok adalah hari keberangkatan Wira ke Paris,Vina mengantar Wira sampai di bandara setelah mengucapkan salam perpisahan,Wira segera bergegas masuk untuk check in.
            Hari-hari Vina kembali seperti sebelumnya hanya menari di paviliun tanpa kehadiran Wira di dalamnya,sesekali Vina datang ke sanggar Widya untuk bertemu dengan Widya dan menanyakan kabar Wira selama Wira berada di Paris.Karna selama itu pula Vina tidak berhubungan dengan Wira, lima tahun sudah Vina berpisah dengan Wira, sesekali ia melihat memory cameranya untuk melihat semua foto-foto Wira dengan dirinya, rindunya semakin menjadi tak ada lagi yang bisa ia lakukan, tak tahu harus berbuat apa Vina hanya menatap dalam foto-foto itu memory tentang Wira terbuka ketika Vina mendapatkan sebuah undangan pameran seni yang akan di adakan di Nusa Dua. Vina datang dengan tampilan elegan ia datang bersama Widya, ketika ia menginjakan kakinya tiba-tiba ada seorang anak kecil menghampirinya menyerahkan setangkai bunga mawar merah di susul dengan anak kecil lainnya,ketika di ruang pameran terpajang jejeran lukisan wanita yang tampak begitu hidup. Satu demi satu lukisan di tatapnya hingga ia tiba di sebuah ruangan yang penuh dengan lukisan bergambarkan sepasang kekasih tengah bercengkrama,lukisan-lukisan yang berjejer itu membentuk sebuah cerita tentang sepasang kekasih itu,hingga pada lukisan terakhir berada di luar ruang pameran dan lilin-lilin di susun sedemikian apik hingga membentuk hati yang sangatlah indah, di dalamnya terbentuk tulisan dari helaian-helaian kelopak mawar yang bertuliskan “I LOVE YOU” Ketika Vina menoleh Wira datang membawa satu bucket bunga mawar dan bersimpu di hadapan Vina. Perasaannya seketika tak menentu, haru pun menjadi-jadi rasa rindunya terbalaskan dengan kebahagiaan yang ia rasakan saat ini. Seakan waktu berhenti pada saat itu juga, mereka saling menetap dan Wira pun memeluk Vina dengan penuh rasa rindu dan kasih sayangnya, cinta mereka bersatu di Bali dalam sebuah indahnya tari Pendet dan menjadi “Potret Cinta” penuh cerita yang tersusun dalam lukisan-lukisan indah penuh makna.